Wednesday, August 3, 2011

SOLO CAMP!


Hari Minggu kemarin saya mengikuti acara outbound di suatu tempat di kota Bogor yang dingin. (Mungkin) sama seperti ke15 teman SUSDAPE lainnya, saya sangat antusias mengikuti acara itu.
Acara outbound itu diadakan untuk menyosialisasikan budaya perusahaan pada kami-kami calon pewarta baru.

Acara berlangsung lancar dan seru. Seperti layaknya acara outbound di mana saja, acara outbound kemarin bertujuan untuk membawa kami out of the boundaries. Pada awalnya, outbound terasa sangat membosankan karena kami terlalu lelah setelah perjalanan hampir 3 jam terkunci dalam bangku bus yang sempit. Sementara, coaches –nya tak pernah bisa berhenti menceramahi kami soal motivasi basi.

Selama outbound, kami manut-manut mengikuti hal-hal yang dianggap perlu dalam setiap ajang memotivasi diri seperti melakukan games2 penuh makna, solo camp, dan rafting. Semuanya merupakan yang pertama kalinya bagi saya.

Bagi saya, yang paling berkesan dalam seluruh rangkaian kegiatan itu adalah SOLO CAMP!! Seperti arti terjemahan harfiahnya, Solo Camp adalah kegiatan berkemping sendirian.
Menjelang pukul 1 dini hari, kami ber16 digiring untuk jalan berbaris-baris menggendong ransel besar berisi ponco loreng, matras karet untuk alas tidur, sebatang lilin, korek api, garam halus, sebungkus wafer dan perment mint. Kami juga dibekali sebuah amplop berisi lembar-lembar formulir untuk diisi.

Malam itu, satu persatu peserta dicabut dari barisan dan diperintahkan untuk mengambil posisi di sudut-sudut semak belukar yang gelap. Saya, kebagian sebuah tempat di bawah naungan pohon jati kurus di antara batang pisang. Mengerikan, memang!

Bulu kuduk saya langsung meremang saat membentangkan matras di atas rumput basah yang dingin. Sungguh, rasanya saya ingin buang air besar saking takutnya. Lalu, saya meneguhkan hati dan menebarkan garam secara serampangan sambil komat-kamit membaca doa yang saya sendiri tak tahu betul apa artinya. Saya menyalakan lilin, memakai ponco dan duduk diam, waspada.

Semenit, dua menit, alam begitu sunyi. Hanya ada degup jantung, erangan parau gagak, semilir angin malam, dan bulan sabit pucat yang menggantung di langit kelam. Entah bagaimana, tiba-tiba jiwa saya menjadi tenang. Seolah saya sudah menjadi bagian dari ekosistem semak itu sejak berpuluh tahun lalu.

Saat itu juga saya menyadari, saya sedang direngkuh oleh alam. Oh indahnya!

No comments:

Post a Comment

If you have any ideas about the post above, please leave comment^^ I'd be very appreciative